BELANTARA KONDANG MERAK
28 Desember 2014 pukul 14.30 WIB
waktu yang dirasa tepat untuk melakukan perjalanan menuju tempat yang
sebelumnya telah direncanakan bersama dalam forum kelas, yang saat itu dipimpin
oleh seorang ketua kelas yang gagah berani, sebut saja dia Na’im, karna memang
nama aslinya seperti itu, dalam diskusi kelas tak didapatkan hasil apa apa
karna memang pada saat itu kondisi kelas yang ramai, juga kelas yang akan
digunakan untuk ujian adik tingkat, maklumlah pada saat itu kami mahasiswa
Biologi UIN Maulana Malik Ibrahim sedang melangsungkan Ujian Akhir, tak lepas
cara lalu kami berfikir bagaimana dan kemana liburan ini, karna rapat juga pada
dasarnya tak mendapatkan hasil sepeserpun hanya opsi saja yang diperoleh yaitu
Liburan kepantai kondang merak dan ke banyuwangi, akhirnya kami buka posting di
grup Bio – C antara dua opsi tersebut, hasilnya kondang merak yang paling
banyak peminatnya.

Hah? Kondang
merak Lagi? Kata sebagian teman yang kelihatannya sudah bosan dengan pantai
kondang merak, karena sebelum sebelumnya kami selalu mengadakan Kegiatan di
pantai kondang merak seperti ospek jurusan, Kuliah Kerja Lapangan dan mungkin
diklat - diklat lapangan juga dilakukan disana, waktu yang berjalan lama
akhirnya datang juga, namun pada saat itu terjadi banyak sekali kendala. Sang
pemimpin barisan Nai’im Muhammad tidak jadi ikut dengan kami ke kondang merak
karena pada saat itu dia mengemban tanggung jawab yang sangat besar dalam
keluarganya, akhirnya dia memutuskan untuk pulang kerumah dan membantu orang
tuanya, tak hanya itu, teman teman sekelas pun juga ikut- ikutan pulang
kampung, Wah,,, KoK anak anak pada sepi “Gumam Kuncoro yang pada saat itu
sedang ngopi di taman merjosari” Iya Cur anak- anak pada pulang, Na’im juga “
Balas Toni dengan nada kecewa,, Hmmmmzzzzz udah, nyuantai,,, wolesss tenang, apapun
yang terjadi dan berapapun personil yang ada kita akan tetap berangkat ke sana
“Saut Ulum seperti logat satria bajai hitam,, hahahahahahaTiba juga
waktu yang dinanti 28 Des 2014, dari 40 anak kelas hanya menyisakan penghuni
terakhir kami ber empat ‘ Ulum, Toni, Kuncoro, Cholid eits,, dan satu lagi
pacar nya ulum adek tingkat, si wafi amalia (
Promosi ) , 13.00 kami semua bersiap siap yntuk menyiapkan segala
sesuatu yang dibawa, seperti baju ganti dkk, sarung, logistic, banner, matras,
Nasting, Thermos, dan kompor yang sebelumnya telah kami sewa di Caldera –
Landungsari, tak berfikir lama kami pun berkumpul di kontrakan cholid ‘An –
Naar 128 C’ setelah itu kami lekas berdo’a agar dalam perjalanan diberi
keselamatan sampai tujuan dan kembali pulang oleh Allah SWT, lekas selasai kami
pun berangkat dengan hati riang nan gembira sembari membayangkan kami adalah
pemain film komersiL 5 CM, karena memang mirip sih, haha.. Perjalanan hidup yang sesungguhnya dimualai, Rute
yang kami lalui adalah start dari POM ITN Malang, lurus terus menuju arah
sukun, lalu ambil arah pasar gadang, sesampai lampu merah pasar gadang , kami
ambil jalan lurus terus masuk pasar gadang, sebenarnya bisa lewat jalan besar
“lampu merah kekanan” namun kondisinya rame dan sangat macet akibatnya kami
pilih alternative lewat jalan dalam pasar gadang karena relative sepi, sekitar
15 menit nanti akan bertemu dengan pertigaan ke kiri arah tumpang dan kekanan
arah bululawang, kami pilih ke kanan, 15 kemudian sampailah pertigaan
bululawang, kami ambil arah lurus dengan tujuan gondang legi, lama melaju
setelah sampai pertigaan gondanglegi kami ambil arah kanan menuju arah
balekambang, tak lama kurang lebih 1KM ada pertigaan didepan, lurus ke
kepanjen, kiri kebalekambang – kondang merak, kami memilih belok kiri dan lurus
saja ikuti plang pemandu kekondang merak – balekambang, sampai nanti kurang
lebih 1 jam akan bertemu dengan pertigaan, arah lurus ke balekambang, kiri ke
pantai nganteb, dan kanan ke kondang merak dengan jalan penuh dengan bebatuan
dan lumpur sehingga akan sangat licin dilalui pada saat musim hujan. Sesampai
dikondang merak, kami langsung menuju warung mak seh, warung sederhana yang
menyediakan ikan – ikan bakar segar setiap harinya dan harganya yang relatif
miring, cocok dengan harga mahasiswa, kami sampai diwarung mak seh sekitar jam
5 sore dan langsung pesan makan yang kebetulan pada saat itu ada menu baru
yaitu sate ikan hiu, dengan bermodal Rp.6000,- kami bisa langsung menyantap
sate ikan hiu dan segelas teh hangat, terasa sekali nikmatnya jika bersama,
setelah puas makan ikan bakar kami pun berniat Camp di pantai yang belum
diketahui namanya, maklumlah masih jarang sekali orang pergi kesana.
Dengan
perbekalan yang telah kami siapkan, kami berangkat saat senja menunjukan
warnanya yang elok, tepatnya waktu maghrib, dengan kurangnya cahaya tak
menyurutkan semangat kami untuk menuju pantai yang kami tuju, tak lepas cara
kamipun mnggunakan senter HP untuk dijadikan penerang saat perjalanan, setelah
menyebrang muara kondang merak kami dihadapkan pada hutan yang sangat lebat,
mula mula sebelum masuk hutan kita berdo’a bersama agar dalam perjalanan nanti
kita diberi keselamatan sampai kembali pulang, ‘berdo’a selesai,,,, “Ujar Ulum
sang instruktur do’a” Kami
berlima masuk dalam belantara hutan kondangmerak yang sangat rimbun, pohon
tumbang, lumut – lumut yang msih tegak belum tersentuh orang sama sekali, jalan
becek berlumpur, semua nya terangkum dihadapan kami, tapi tak membuat semangat
kami kendor, perjalanan dipimpin oleh kuncoro yang mmbawa senter redup hp ceng
cengpo nya didepan disusul toni lalu ulum wafi dan saya yang juga membawa
senter hp di belakang, perjalanan pertama kami tak mendaoatkan rintangan
sedikitpun hanya gelapnya malam yang kami hadapi, namun tak lama perjalanan
selanjutnya dihadapkan oleh jalan yang sangat licin dan berlumpur yang membuat
kaki melangkah semakin berat, setelah itu disusul oleh rintangan pohon tumbang
yang menutupi jalan, membuat kami harus merunduk untuk melewatinya, 20 menit
berlalu sampailah kami pada pantai yang tidak tahu namanaya biasanya disebut
kami dengan nama kondang merak 3, karena untuk menuju kesana kami melewati 2
pantai yang juga belum ada namanya, dan pantai yang kami tuju adalah pantai
ketiga dari pantai kondang merak , lalu kami namakan kondangmerak 3


Cahaya gelap,
langit mendung, bulan hilang tinggal separo, desahan ombak yang besar terdengar
mengerikan dan memang ini adalah pantai selatan wajar saja ombaknya besar
karena memang langsung berhadapan dengan samudra hindia yang sangat luas
sekali,,, dipojok pantai kondang merak 3 kami membuat camp, dengan peralatan
yang terbatas, bukan tenda yang kami buat camp, namun Banner ukuran 2 x 3
sebanyak 3 lembar,, dengan nafas terengah engah kami mencoba menghibur diri
dengan lawakan lawakan tak jelas, namun bisa memberikan tawa, dan setiap tawa
adalah energi bagi kami. Udara
mulai dingin, kami pun mencoba mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api
unggun, semua pasukan bergerak, semua mengumpulkan
kayu kayu yang terdampar dari gulungan ombak, kayu di hutan, rerimbunan daun
kering yang berguguran, dan sampah plastik yang dibawa oleh arus laut menuju
tepi pantai, setelah semua terkumpul, kami melongo melihat kondisi kayu daun
dan plastic karena seluruhnya basah total “eh, kyunya kok basah semua ya, apa
bisa buat api unggun dari kayu basah” keluhan kuncoro “Bisa – bisa,, pokok ada
palsatik atau sandal nanti pasti akan terbakar “kata toni dengan seribu
pengalaman” Kayu kami tumpuk dengan
formasi kayu besar disamping dan bawah, lalu atasnya kayu kecil dan daun-daun,
dan denganplastik ditengahnya, lama mencoba dan hampir frustasi akhirnya api
menyala juga, senang rasanya bisa menikmati kehangatan ditengan kelamnya malam
yang sangat dingin.


Nyala,,,
nyla,,, api menyala,,, api menyala sekarang juga,,, “ itulah teriakan kami saat
api mualai berkobar layaknya anak pramuka sedang melakukan kemah dipadang ria “
Setelah api menyala kamipun bergegas melaksanakan sholat isya’ secara
berjamaah, dengan benner sebagai alasnya, kami bergegas mengambil air wudhu
dipantai, setelah semua siap, iqomah sholat berjama’ah dikumandangkan oleh
cholid dan sholat isya’ diimami oleh toni. Sekalipun kami terkesan oleh
kenakalan kami, tapi kami tak akan lupa pada tuhan sang pencipta kami. Whussss,,,,
Whussss,, Whusssss,,, dipertengahan sholat, kami merasakan angin yang sangat
besar sekali layaknya puting beliung, mungkin ini adalah anaknya
puting beliung. anginya berhembus sangat deras dengan sekejap saja,
setelah itu langit meneteskan air mata yang sangat deras pula, namun kami tak
beranjak dari ibadah kami, hanya imamnya sadar dengan bacaaanya semakin
dipercepat, karena memang kondisi tidak
memungkinkan, “setelah salam “Hoi,,, ambil benner paling besar,,, kumpulkan
barang – barang dalam benner!!!!! semua panik menyelamatkan barang
barangnya,, setelah semua masuk dalam benner, kami tutup barang barang kami
dengan benner lagi, seperti tumpukan bata, kami hanya memandang laut sepi,
langit gelap, hujan turun, udara dingin, tanpa tenda semua basah kuyup, hanya
api yang masih tegar dan gagah berani menantaang air langit sebagai teman
bagi kami.
Tak
lama hujan pun reda,, segera kami mendekat pada api dan menghangatkan badan,
dengan pandangan mata lurus menantang langit, kami melihat mulai muncul bintang
bintang dan bulan dari atas sebagai penghias atap bumi, indah,,,, sekali
rasanya,, dengan dekapan baju basah kami mencoba menghangatkan diri lagi dengan
membuat kopi dan snack yang telah kami persiapkan dari rumah,, canda, tawa,
bahagia, ria kami rasakan ditambah dengan iringan gitar yang mebuat kami
semakin semangat, lama ,,, kemudian,, sebgaian dari kami tertidur pulas,, toni
kuncoro dan wafi sudah terlelap dalam mimpi indah,, hanya tersisa Ulum dan Saya
yang masih berjaga agar api tetap menyala, 
Mata yang
memuji keindahan langit sedari tadi kini terkaget melihat datangnya mendung yang
kedua kalinya,,, “Hujan akan datang “ “Gumam ulum”, siap siap saja, ,,
dengan waktu yang sangat singkat, hujan pun kembali turun mengguyang kami
berlima, kuncoro, toni, dan wafi pun tersentak bangun karena air yang turun
juga sama deras,, kuncoro bergegas mendekap api supaya tetap hangat, ulum,
toni, saya dan wafi meluncur mencari mantel agar tak lagi kehujanan, semntara
kuncoro masih tegar dengan kulitnya yang seperti badak, tak lama hujan pun
berhenti, dan teman teman pun kembali tidur, waktu sudah menunjukan pukul 00.30
WIB, saya merasa mata ini tak sanggup tuk terbuka, akhirnya saya memutuskan
untuk tidur dan berharap nantinya teman teman akan bangun dan menjaga api agar
tetap menyala. Ditengah mata yang sedang terlelap, air langit mulai menggoda, tanpa peringatan dia tunjukan eksistensinya, namun saya mencoba untuk mengacuhkan untuk
tidak bangun karena memang saya dilindungi oleh mantel, namun kuncoro yang
tanpa mantel terbangun dengan segera, dan toni pun menyusulnya, mereka berdua
lah yang akhirnya bangun dan menjaga api menyala sampai pagi, dengan hujan yang
tetap mengucur deras namun cepat berhenti, siklus hujan dalam satu malam
terjadi sebanyak 6 kali, hujan berhenti hujan berhenti dst,,, Setelah
lama mennanti akhirnya mentari pagi muncul diiringi pelangi. indah si rasanya, mengiat kejadian semalam, tragis,, semua dera yang kami rasakan hilang seiiring datangnya senyuman. lihatlah ke langit, Tuhan sedang tersenyum...
Semua bahagia
dengan datangnya pagi, kecuali KUNCORO, karena semalaman dia kehujanan tanpa
mantel yang melindungi kulit badaknya, dia menggigil kedinginan seperti ingin
mati, namun teh hangat yang dibuatkan toni menyelamatkan nya dari kepunahan
badak tuban, haha,, setelah matahari mulai menunjukan sinar panasnya, kami
berniat mengeringkan barang barang kami yang basah dengan cara menjemur barang
barang diatas ranting pohon yang terkena panas matahari, dan kami meninggalkan
barang jemuran kami sementara kami melanjutkan perjalanan menuju balekambang
melewati belantara hutan lagi,

![]()

Perjalanan
tangguh ini kami abadikan dalam camera yang nantinya akan memberikan inspirasi
bagi diri kami dan mungkin orang lain yang ingin mencoba mengarungi kuasa
ilahi, dijembatan patah – patah ini kami ber-lima berkumpul, tertawa dan
semuanya kami abadikan dalam frame 29 Desember 2014, Puas rasanya berjalan
kamipun berniat kembali ke camp untuk mengambil barang – barang dan pulang
kekondang merak, lama berjalan melewati hutan lagi, akhirnya sampai ke camp,
walaupun harus dengan terengah – engah namun kami tetap senang, setelah
bersiap-siap kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang kekondang merak, sama
rintang sama susah dan sama berat nya dengan tadi malam, kami melewati hutan
rimbun, tanah becek, pohon tumbang dsb, semua kami lewati demi ikan panggang
yang kami tuju, haha,, maklumlah pada saat itu kami sangat lapar,,

Sesampainya digerbang keluar
hutan, tiba tiba kami dikejutkan oleh air pasang yang sangat deras, kami tak bisa kembali akibat pasang air laut hingga kita menunggu 3 jam tak surut. 

Waktunya
berangkatt.. ujar anak-anak. Gag bisa,, kita tunggu surut “jawab sholeh”,, kami pun semakin jengkel
karena air tak kunjung surut, akhirnya kami berfikir bagaimana caranya agar
dapat lewat dari muara yang dalam ini, idepun muncul dari salah satu teman kami
‘si wafi amalia” kami pun membuat perahu RAKIT dari batang batang pohon yang
tumbang dan bambu yang berserakan di tepi muara, dan menggunakan akar layang
pohon sebagai pengikatnya, dengan usaha dan kerja keras, akhirnya jadilah RAKIT
buatan anak terdampar

Uji
coba rakit dimulai, saya, kuncoro dan toni yang menguji rakit apakah tenggelam
atau tidak jika digunakan berlima,, melewati muara kami dorong perlahan lahan,
lebih dalam,, dalam,,, dan akhirnya blesss,, kaki saya tak menyentuh tanah sama
sekali, hanya rakit yang saya gunakan tumpuan, kuncoro dan toni mendorong rakit
dari belakang pun tak melanjutkan lagi, dia kembali berenang ketepi karena
dirasa perahu tidak kuat menahan bertiga, apalagi berlima, perahu rakit hanya
kuat mengangkut beban saya saja, itupun masih terombang ambing arus laut yang
deras dan sangat bahaya dan jika digunakan lebih dari 1 orang, rakit pun
tenggelam …
WAHHHHH,,,
Gagal lagi, kami tak kehilangan akal, kami mencoba menyusuri pinggiran muara,, lalu menyebrang ketengah yang kelihatannya
dangkal, namun apa yang terjadi,,, blessss,, malah tambah dalam. ckckck tak lama kami terdampar,, pertolongan datang dari warga desa di kondang merak,,
kami disuruh menunggu di tepi muara dan jangan beranjak kemana mana karena
sangat bahaya dan fatal teriak pak EDI selaku ketua Nelayan di kondang merak, Lama
menanti, kami dibawakan oleh pak Edi, rekan dan istrinya “Ban, Tambang, dan
baju Plampung”, pak edi menyusul kami ke pinggiran muara dengan ban dan
membawakan kami baju pelampung, kami berlima disuruh untuk memakainya, “Baju
ini harus kalian pakai, WAJIB Hukumnya!!!!”
kata pak edi” siap pakkk,,, kami serentak menjawab” setelah semua
memakai, pak edi menyuruh barang barang berharga dimasukkan kedalam ban duluan
agar bisa terselamatkan, lalu pak edi membawa barang barang kami keseberang dan
kembali lagi untuk menyusul kami, setelah sampai kami disuruh turun keair dan
disuruhnya menggantung di ban yang telah diikat tambang oleh istri pak edi kemudian
di Tarik minggir olehnya, sesampainya di seberang,, ‘Alhamdulillah ,, gak jadi mati..
Kami pun
dimarahi oleh istri pak edi yang juga karyawan ditempat mak seh, tempat kami
menitipkan sepeda, helm dan tempat kami makan “Oalah le,,, le,,, kurang 1 jam
saja, kami laporkan kalian kepolisi” karena memang ada aturan jika ada tamu
lebih dari 24 jam tidak kembali maka wajib hukumnya melapor kekepolisian dan nanti
polisi akan menghubungi TIM SAR, Mengingat banyaknya korban yang berjatuhan di
pantai selatan karena ganasnya ombak, pihak kepolisian menetapkan aturan
seperti itu, kami hanya menundukan wajah dan merasa sangat bersalah, kata maaf lah yang kami ucapakan kepada mereka mereka yang mengkhawatirkan
kami, karena ternyata yang mengkhawatirkan kami itu satu kampung,,, ma’af pak, ma’af buk,, dan yang lebih terkejutnya mak seh sang pemilik warung
pun menagis karena tingkah kami, “Kalian kok gag bilang bilang se le,, kalau
mau ngecamp di pantai seberang “Ucap mak seh dengan nada khawatir” Maaf mak,
kemarin waktu kami makan sebelum berangkat njenengan tidak ada, jadinya kami
gag bilang,,, “Jawab kami dengan nada bersalah,, “E,, YAUDAH SEKARANG MAU
MAKAN APA ?” Itulah pertanyaan yang menyenangkan, karena kami memang lapar
sekali. Tuna
1 kg, Salem 1 kg, dan teh anget, itulah menu yang kami pesan,, sembari menunggu
makanan siap,, kami bersih bersih badan terlebih dulu, mandi, keramas, dll,
seusai mandi,, menu yang kami pesan telah siap di meja makan, wauuuuu
wenakkkkkkkk “Saut Ulum dengan mata melolok”, Kami pun berdoa bersama dan makan
bersama,, ini lah kisah akhir tahun kami, canda tawa bahagia dera ria semua
menjadi satu dalam rangkuman kisah perjalanan akhir tahun Biologi ‘12 Uin Maliki Malang, setelah perut kenyang,
kami pun bergegas untuk pulang semabari pamitan kepada mak seh dan pak edi yang
telah menyelamatkan kami, tutur kata panjang lebar telah di paparkan oleh
beliau, ceramah dari mulai A sampai Z kami dengarkan tapi hanya beberapa kata
yang kami ingat “JANGAN KAPOK, KESINI LAGI YA” itu tak terdengar seperti kata
motivasi sih,,, melainkan kata promosi,
tapi takapalah, Kami pun kembali kemalang jam 18.00 WIB dan sampai di malang
jam 20.30 WIB. Sekian kisah pengalaman tak penting kami,-= WAHAI ALAM,
DENGARLAH KAMI =-












xx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar