Selasa, 30 Desember 2014

BELANTARA KONDANG MERAK


28 Desember 2014 pukul 14.30 WIB waktu yang dirasa tepat untuk melakukan perjalanan menuju tempat yang sebelumnya telah direncanakan bersama dalam forum kelas, yang saat itu dipimpin oleh seorang ketua kelas yang gagah berani, sebut saja dia Na’im, karna memang nama aslinya seperti itu, dalam diskusi kelas tak didapatkan hasil apa apa karna memang pada saat itu kondisi kelas yang ramai, juga kelas yang akan digunakan untuk ujian adik tingkat, maklumlah pada saat itu kami mahasiswa Biologi UIN Maulana Malik Ibrahim sedang melangsungkan Ujian Akhir, tak lepas cara lalu kami berfikir bagaimana dan kemana liburan ini, karna rapat juga pada dasarnya tak mendapatkan hasil sepeserpun hanya opsi saja yang diperoleh yaitu Liburan kepantai kondang merak dan ke banyuwangi, akhirnya kami buka posting di grup Bio – C antara dua opsi tersebut, hasilnya kondang merak yang paling banyak peminatnya.





Hah? Kondang merak Lagi? Kata sebagian teman yang kelihatannya sudah bosan dengan pantai kondang merak, karena sebelum sebelumnya kami selalu mengadakan Kegiatan di pantai kondang merak seperti ospek jurusan, Kuliah Kerja Lapangan dan mungkin diklat - diklat lapangan juga dilakukan disana, waktu yang berjalan lama akhirnya datang juga, namun pada saat itu terjadi banyak sekali kendala. Sang pemimpin barisan Nai’im Muhammad tidak jadi ikut dengan kami ke kondang merak karena pada saat itu dia mengemban tanggung jawab yang sangat besar dalam keluarganya, akhirnya dia memutuskan untuk pulang kerumah dan membantu orang tuanya, tak hanya itu, teman teman sekelas pun juga ikut- ikutan pulang kampung, Wah,,, KoK anak anak pada sepi “Gumam Kuncoro yang pada saat itu sedang ngopi di taman merjosari” Iya Cur anak- anak pada pulang, Na’im juga “ Balas Toni dengan nada kecewa,, Hmmmmzzzzz udah, nyuantai,,, wolesss tenang, apapun yang terjadi dan berapapun personil yang ada kita akan tetap berangkat ke sana “Saut Ulum seperti logat satria bajai hitam,, hahahahahahaTiba juga waktu yang dinanti 28 Des 2014, dari 40 anak kelas hanya menyisakan penghuni terakhir kami ber empat ‘ Ulum, Toni, Kuncoro, Cholid eits,, dan satu lagi pacar nya ulum adek tingkat, si wafi amalia (  Promosi ) , 13.00 kami semua bersiap siap yntuk menyiapkan segala sesuatu yang dibawa, seperti baju ganti dkk, sarung, logistic, banner, matras, Nasting, Thermos, dan kompor yang sebelumnya telah kami sewa di Caldera – Landungsari, tak berfikir lama kami pun berkumpul di kontrakan cholid ‘An – Naar 128 C’ setelah itu kami lekas berdo’a agar dalam perjalanan diberi keselamatan sampai tujuan dan kembali pulang oleh Allah SWT, lekas selasai kami pun berangkat dengan hati riang nan gembira sembari membayangkan kami adalah pemain film komersiL 5 CM, karena memang mirip sih, haha..           Perjalanan hidup yang sesungguhnya dimualai, Rute yang kami lalui adalah start dari POM ITN Malang, lurus terus menuju arah sukun, lalu ambil arah pasar gadang, sesampai lampu merah pasar gadang , kami ambil jalan lurus terus masuk pasar gadang, sebenarnya bisa lewat jalan besar “lampu merah kekanan” namun kondisinya rame dan sangat macet akibatnya kami pilih alternative lewat jalan dalam pasar gadang karena relative sepi, sekitar 15 menit nanti akan bertemu dengan pertigaan ke kiri arah tumpang dan kekanan arah bululawang, kami pilih ke kanan, 15 kemudian sampailah pertigaan bululawang, kami ambil arah lurus dengan tujuan gondang legi, lama melaju setelah sampai pertigaan gondanglegi kami ambil arah kanan menuju arah balekambang, tak lama kurang lebih 1KM ada pertigaan didepan, lurus ke kepanjen, kiri kebalekambang – kondang merak, kami memilih belok kiri dan lurus saja ikuti plang pemandu kekondang merak – balekambang, sampai nanti kurang lebih 1 jam akan bertemu dengan pertigaan, arah lurus ke balekambang, kiri ke pantai nganteb, dan kanan ke kondang merak dengan jalan penuh dengan bebatuan dan lumpur sehingga akan sangat licin dilalui pada saat musim hujan.                Sesampai dikondang merak, kami langsung menuju warung mak seh, warung sederhana yang menyediakan ikan – ikan bakar segar setiap harinya dan harganya yang relatif miring, cocok dengan harga mahasiswa, kami sampai diwarung mak seh sekitar jam 5 sore dan langsung pesan makan yang kebetulan pada saat itu ada menu baru yaitu sate ikan hiu, dengan bermodal Rp.6000,- kami bisa langsung menyantap sate ikan hiu dan segelas teh hangat, terasa sekali nikmatnya jika bersama, setelah puas makan ikan bakar kami pun berniat Camp di pantai yang belum diketahui namanya, maklumlah masih jarang sekali orang pergi kesana.


Dengan perbekalan yang telah kami siapkan, kami berangkat saat senja menunjukan warnanya yang elok, tepatnya waktu maghrib, dengan kurangnya cahaya tak menyurutkan semangat kami untuk menuju pantai yang kami tuju, tak lepas cara kamipun mnggunakan senter HP untuk dijadikan penerang saat perjalanan, setelah menyebrang muara kondang merak kami dihadapkan pada hutan yang sangat lebat, mula mula sebelum masuk hutan kita berdo’a bersama agar dalam perjalanan nanti kita diberi keselamatan sampai kembali pulang, ‘berdo’a selesai,,,, “Ujar Ulum sang instruktur do’a”                Kami berlima masuk dalam belantara hutan kondangmerak yang sangat rimbun, pohon tumbang, lumut – lumut yang msih tegak belum tersentuh orang sama sekali, jalan becek berlumpur, semua nya terangkum dihadapan kami, tapi tak membuat semangat kami kendor, perjalanan dipimpin oleh kuncoro yang mmbawa senter redup hp ceng cengpo nya didepan disusul toni lalu ulum wafi dan saya yang juga membawa senter hp di belakang, perjalanan pertama kami tak mendaoatkan rintangan sedikitpun hanya gelapnya malam yang kami hadapi, namun tak lama perjalanan selanjutnya dihadapkan oleh jalan yang sangat licin dan berlumpur yang membuat kaki melangkah semakin berat, setelah itu disusul oleh rintangan pohon tumbang yang menutupi jalan, membuat kami harus merunduk untuk melewatinya, 20 menit berlalu sampailah kami pada pantai yang tidak tahu namanaya biasanya disebut kami dengan nama kondang merak 3, karena untuk menuju kesana kami melewati 2 pantai yang juga belum ada namanya, dan pantai yang kami tuju adalah pantai ketiga dari pantai kondang merak , lalu kami namakan kondangmerak 3



                Cahaya gelap, langit mendung, bulan hilang tinggal separo, desahan ombak yang besar terdengar mengerikan dan memang ini adalah pantai selatan wajar saja ombaknya besar karena memang langsung berhadapan dengan samudra hindia yang sangat luas sekali,,, dipojok pantai kondang merak 3 kami membuat camp, dengan peralatan yang terbatas, bukan tenda yang kami buat camp, namun Banner ukuran 2 x 3 sebanyak 3 lembar,, dengan nafas terengah engah kami mencoba menghibur diri dengan lawakan lawakan tak jelas, namun bisa memberikan tawa, dan setiap tawa adalah energi bagi kami.                Udara mulai dingin, kami pun mencoba mengumpulkan kayu bakar untuk membuat api unggun, semua pasukan bergerak, semua mengumpulkan kayu kayu yang terdampar dari gulungan ombak, kayu di hutan, rerimbunan daun kering yang berguguran, dan sampah plastik yang dibawa oleh arus laut menuju tepi pantai, setelah semua terkumpul, kami melongo melihat kondisi kayu daun dan plastic karena seluruhnya basah total “eh, kyunya kok basah semua ya, apa bisa buat api unggun dari kayu basah” keluhan kuncoro “Bisa – bisa,, pokok ada palsatik atau sandal nanti pasti akan terbakar “kata toni dengan seribu pengalaman”  Kayu kami tumpuk dengan formasi kayu besar disamping dan bawah, lalu atasnya kayu kecil dan daun-daun, dan denganplastik ditengahnya, lama mencoba dan hampir frustasi akhirnya api menyala juga, senang rasanya bisa menikmati kehangatan ditengan kelamnya malam yang sangat dingin.



Nyala,,, nyla,,, api menyala,,, api menyala sekarang juga,,, “ itulah teriakan kami saat api mualai berkobar layaknya anak pramuka sedang melakukan kemah dipadang ria “ Setelah api menyala kamipun bergegas melaksanakan sholat isya’ secara berjamaah, dengan benner sebagai alasnya, kami bergegas mengambil air wudhu dipantai, setelah semua siap, iqomah sholat berjama’ah dikumandangkan oleh cholid dan sholat isya’ diimami oleh toni. Sekalipun kami terkesan oleh kenakalan kami, tapi kami tak akan lupa pada tuhan sang pencipta kami.                Whussss,,,, Whussss,, Whusssss,,, dipertengahan sholat, kami merasakan angin yang sangat besar sekali layaknya puting beliung, mungkin ini adalah anaknya puting beliung. anginya berhembus sangat deras dengan sekejap saja, setelah itu langit meneteskan air mata yang sangat deras pula, namun kami tak beranjak dari ibadah kami, hanya imamnya sadar dengan bacaaanya semakin dipercepat, karena memang kondisi tidak memungkinkan, “setelah salam “Hoi,,, ambil benner paling besar,,, kumpulkan barang – barang dalam benner!!!!! semua panik menyelamatkan barang barangnya,, setelah semua masuk dalam benner, kami tutup barang barang kami dengan benner lagi, seperti tumpukan bata, kami hanya memandang laut sepi, langit gelap, hujan turun, udara dingin, tanpa tenda semua basah kuyup, hanya api yang masih tegar dan gagah berani menantaang air langit sebagai teman bagi kami. Tak lama hujan pun reda,, segera kami mendekat pada api dan menghangatkan badan, dengan pandangan mata lurus menantang langit, kami melihat mulai muncul bintang bintang dan bulan dari atas sebagai penghias atap bumi, indah,,,, sekali rasanya,, dengan dekapan baju basah kami mencoba menghangatkan diri lagi dengan membuat kopi dan snack yang telah kami persiapkan dari rumah,, canda, tawa, bahagia, ria kami rasakan ditambah dengan iringan gitar yang mebuat kami semakin semangat, lama ,,, kemudian,, sebgaian dari kami tertidur pulas,, toni kuncoro dan wafi sudah terlelap dalam mimpi indah,, hanya tersisa Ulum dan Saya yang masih berjaga agar api tetap menyala,      

Mata yang memuji keindahan langit sedari tadi kini terkaget melihat datangnya mendung yang kedua kalinya,,, “Hujan akan datang “ “Gumam ulum”, siap siap saja, ,, dengan waktu yang sangat singkat, hujan pun kembali turun mengguyang kami berlima, kuncoro, toni, dan wafi pun tersentak bangun karena air yang turun juga sama deras,, kuncoro bergegas mendekap api supaya tetap hangat, ulum, toni, saya dan wafi meluncur mencari mantel agar tak lagi kehujanan, semntara kuncoro masih tegar dengan kulitnya yang seperti badak, tak lama hujan pun berhenti, dan teman teman pun kembali tidur, waktu sudah menunjukan pukul 00.30 WIB, saya merasa mata ini tak sanggup tuk terbuka, akhirnya saya memutuskan untuk tidur dan berharap nantinya teman teman akan bangun dan menjaga api agar tetap menyala.                Ditengah mata yang sedang terlelap, air langit mulai menggoda, tanpa peringatan dia tunjukan eksistensinya, namun saya mencoba untuk mengacuhkan untuk tidak bangun karena memang saya dilindungi oleh mantel, namun kuncoro yang tanpa mantel terbangun dengan segera, dan toni pun menyusulnya, mereka berdua lah yang akhirnya bangun dan menjaga api menyala sampai pagi, dengan hujan yang tetap mengucur deras namun cepat berhenti, siklus hujan dalam satu malam terjadi sebanyak 6 kali, hujan berhenti hujan berhenti dst,,,                Setelah lama mennanti akhirnya mentari pagi muncul diiringi pelangi. indah si rasanya, mengiat kejadian semalam, tragis,, semua dera yang kami rasakan hilang seiiring datangnya senyuman. lihatlah ke langit, Tuhan sedang tersenyum...


                        Semua bahagia dengan datangnya pagi, kecuali KUNCORO, karena semalaman dia kehujanan tanpa mantel yang melindungi kulit badaknya, dia menggigil kedinginan seperti ingin mati, namun teh hangat yang dibuatkan toni menyelamatkan nya dari kepunahan badak tuban, haha,, setelah matahari mulai menunjukan sinar panasnya, kami berniat mengeringkan barang barang kami yang basah dengan cara menjemur barang barang diatas ranting pohon yang terkena panas matahari, dan kami meninggalkan barang jemuran kami sementara kami melanjutkan perjalanan menuju balekambang melewati belantara hutan lagi,


        

Perjalanan tangguh ini kami abadikan dalam camera yang nantinya akan memberikan inspirasi bagi diri kami dan mungkin orang lain yang ingin mencoba mengarungi kuasa ilahi, dijembatan patah – patah ini kami ber-lima berkumpul, tertawa dan semuanya kami abadikan dalam frame 29 Desember 2014, Puas rasanya berjalan kamipun berniat kembali ke camp untuk mengambil barang – barang dan pulang kekondang merak, lama berjalan melewati hutan lagi, akhirnya sampai ke camp, walaupun harus dengan terengah – engah namun kami tetap senang, setelah bersiap-siap kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang kekondang merak, sama rintang sama susah dan sama berat nya dengan tadi malam, kami melewati hutan rimbun, tanah becek, pohon tumbang dsb, semua kami lewati demi ikan panggang yang kami tuju, haha,, maklumlah pada saat itu kami sangat lapar,,


         Sesampainya digerbang keluar hutan, tiba tiba kami dikejutkan oleh air pasang yang sangat deras, kami tak bisa kembali akibat pasang air laut hingga kita menunggu 3 jam tak surut.               


         

Waktunya berangkatt.. ujar anak-anak. Gag bisa,, kita tunggu surut “jawab sholeh”,, kami pun semakin jengkel karena air tak kunjung surut, akhirnya kami berfikir bagaimana caranya agar dapat lewat dari muara yang dalam ini, idepun muncul dari salah satu teman kami ‘si wafi amalia” kami pun membuat perahu RAKIT dari batang batang pohon yang tumbang dan bambu yang berserakan di tepi muara, dan menggunakan akar layang pohon sebagai pengikatnya, dengan usaha dan kerja keras, akhirnya jadilah RAKIT buatan anak terdampar




                

Uji coba rakit dimulai, saya, kuncoro dan toni yang menguji rakit apakah tenggelam atau tidak jika digunakan berlima,, melewati muara kami dorong perlahan lahan, lebih dalam,, dalam,,, dan akhirnya blesss,, kaki saya tak menyentuh tanah sama sekali, hanya rakit yang saya gunakan tumpuan, kuncoro dan toni mendorong rakit dari belakang pun tak melanjutkan lagi, dia kembali berenang ketepi karena dirasa perahu tidak kuat menahan bertiga, apalagi berlima, perahu rakit hanya kuat mengangkut beban saya saja, itupun masih terombang ambing arus laut yang deras dan sangat bahaya dan jika digunakan lebih dari 1 orang, rakit pun tenggelam …


        WAHHHHH,,, Gagal lagi, kami tak kehilangan akal, kami mencoba menyusuri pinggiran muara,, lalu menyebrang ketengah yang kelihatannya dangkal, namun apa yang terjadi,,, blessss,, malah tambah dalam. ckckck tak lama kami terdampar,, pertolongan datang dari warga desa di kondang merak,, kami disuruh menunggu di tepi muara dan jangan beranjak kemana mana karena sangat bahaya dan fatal teriak pak EDI selaku ketua Nelayan di kondang merak,                Lama menanti, kami dibawakan oleh pak Edi, rekan dan istrinya “Ban, Tambang, dan baju Plampung”, pak edi menyusul kami ke pinggiran muara dengan ban dan membawakan kami baju pelampung, kami berlima disuruh untuk memakainya, “Baju ini harus kalian pakai, WAJIB Hukumnya!!!!”  kata pak edi” siap pakkk,,, kami serentak menjawab” setelah semua memakai, pak edi menyuruh barang barang berharga dimasukkan kedalam ban duluan agar bisa terselamatkan, lalu pak edi membawa barang barang kami keseberang dan kembali lagi untuk menyusul kami, setelah sampai kami disuruh turun keair dan disuruhnya menggantung di ban yang telah diikat tambang oleh istri pak edi kemudian di Tarik minggir olehnya, sesampainya di seberang,, ‘Alhamdulillah ,, gak jadi mati..


               Kami pun dimarahi oleh istri pak edi yang juga karyawan ditempat mak seh, tempat kami menitipkan sepeda, helm dan tempat kami makan “Oalah le,,, le,,, kurang 1 jam saja, kami laporkan kalian kepolisi” karena memang ada aturan jika ada tamu lebih dari 24 jam tidak kembali maka wajib hukumnya melapor kekepolisian dan nanti polisi akan menghubungi TIM SAR, Mengingat banyaknya korban yang berjatuhan di pantai selatan karena ganasnya ombak, pihak kepolisian menetapkan aturan seperti itu, kami hanya menundukan wajah dan merasa sangat bersalah, kata maaf lah yang kami ucapakan kepada mereka mereka yang mengkhawatirkan kami, karena ternyata yang mengkhawatirkan kami itu satu kampung,,, ma’af pak, ma’af buk,, dan yang lebih terkejutnya mak seh sang pemilik warung pun menagis karena tingkah kami, “Kalian kok gag bilang bilang se le,, kalau mau ngecamp di pantai seberang “Ucap mak seh dengan nada khawatir” Maaf mak, kemarin waktu kami makan sebelum berangkat njenengan tidak ada, jadinya kami gag bilang,,, “Jawab kami dengan nada bersalah,, “E,, YAUDAH SEKARANG MAU MAKAN APA ?” Itulah pertanyaan yang menyenangkan, karena kami memang lapar sekali.                Tuna 1 kg, Salem 1 kg, dan teh anget, itulah menu yang kami pesan,, sembari menunggu makanan siap,, kami bersih bersih badan terlebih dulu, mandi, keramas, dll, seusai mandi,, menu yang kami pesan telah siap di meja makan, wauuuuu wenakkkkkkkk “Saut Ulum dengan mata melolok”, Kami pun berdoa bersama dan makan bersama,, ini lah kisah akhir tahun kami, canda tawa bahagia dera ria semua menjadi satu dalam rangkuman kisah perjalanan akhir tahun Biologi  ‘12 Uin Maliki Malang, setelah perut kenyang, kami pun bergegas untuk pulang semabari pamitan kepada mak seh dan pak edi yang telah menyelamatkan kami, tutur kata panjang lebar telah di paparkan oleh beliau, ceramah dari mulai A sampai Z kami dengarkan tapi hanya beberapa kata yang kami ingat “JANGAN KAPOK, KESINI LAGI YA” itu tak terdengar seperti kata motivasi sih,,,  melainkan kata promosi, tapi takapalah, Kami pun kembali kemalang jam 18.00 WIB dan sampai di malang jam 20.30 WIB. Sekian kisah pengalaman tak penting kami,-= WAHAI ALAM, DENGARLAH KAMI =- xx